Halaman

Biarkan Kebebasan Memerintah. Matahari Juga Tidak Pernah Mengatur Kemuliaan Yang Harus Dicapai Manusia ~ Nelson Mandela ~

Rabu, 20 Juni 2012

Biarkan aku menjadi Suaramu


Sejak awal, keluarga dari si wanita menolak dengan keras terhadap hubungannya dengan sang pria. Dikatakan bahwa pernikahan harus sesuai dengan latar belakang keluarga & si wanita akan menderita seumur hidup bila bersamanya.
  Karena tekanan keluarga itulah, pasangan ini sering bertengkar. Meskipun si wanita mencintai si pria, ia terus bertanya pada si pria: "Seberapa dalam cintamu padaku?"

Kamis, 07 Juni 2012

Kepulauan Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.
Masyarakat Kepulauan Raja Ampat umumnya nelayan tradisional yang berdiam di kampung-kampung kecil yang letaknya berjauhan dan berbeda pulau. Mereka adalah masyarakat yang ramah menerima tamu dari luar, apalagi kalau kita membawa oleh-oleh buat mereka berupa pinang ataupun permen. Barang ini menjadi semacam 'pipa perdamaian indian' di Raja Ampat. Acara mengobrol dengan makan pinang disebut juga "Para-para Pinang" seringkali bergiliran satu sama lain saling melempar mob, istilah setempat untuk cerita-cerita lucu.
Mereka adalah pemeluk Islam dan Kristen dan seringkali di dalam satu keluarga atau marga terdapat anggota yang memeluk salah satu dari dua agama tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat Raja Ampat tetap rukun walaupun berbeda keyakinan.

Minggu, 20 Mei 2012

Kebangkitan Nasional

Monumen Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda & Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan Ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli. 
Sourcewikipedia.org

Kamis, 17 Mei 2012

Nyanyian Getir Tanah Air

  • Nyanyian Getir Tanah Air



    Seringkali aku terjaga terusik dari tidurku
    Sepertinya kudengar suara jeritan yang menyayat
    Mungkin hanya mimpi yang tak punya makna
    atau ini isyarat agar aku mulai bicara
    Seringkali aku mencoba membenamkan kepalaku
    Bersembunyi dari hiruk pikuk suara yang memilukan
    Mungkin aku memang bodoh atau tak peduli
    Percaya kegetiran tak selalu berbuah duka
    Kusaksikan tangan kotor mulai mencengkeram
    Tak ada siapa pun yang dapat mencegah
    Orang-orang pandai hanya diam menonton
    atau bahkan hanya saling menuding
    Mulai kehilangan hasrat kemanusiaan,
    mulai kehilangan akal kebersamaan,
    mulai kehilangan rasa saling memiliki
    Para pemimpin pun tak ada yang peduli
    Mungkin aku memang bodoh atau tak peduli
    Percaya kegetiran tak selalu berbuah duka
    Kusaksikan tangan kotor mulai mencengkeram
    Tak ada siapa pun yang dapat mencegah
    Orang-orang pandai hanya diam menonton
    atau bahkan hanya saling menuding
    Mulai kehilangan hasrat kemanusiaan,
    mulai kehilangan akal kebersamaan,
    mulai kehilangan rasa saling memiliki
    Para pemimpin pun tak ada yang peduli
 
Seringkali aku terjaga terusik dari tidurku
Sepertinya kudengar suara jeritan yang menyayat
Mungkin hanya mimpi yang tak punya makna
atau ini isyarat agar aku mulai bicara

Rabu, 16 Mei 2012

Anak Yang Buta

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda..

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Ya, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”